Perkembangan pesat teknologi Artificial Intelligence (AI) kini telah melintasi berbagai sektor, tidak terkecuali sektor pendidikan yang kini telah bertransformasi menjadi industri belajar modern berbasis digital. Di tengah gelombang otomatisasi ini, Dr. Citra Kurniawan, S.T., M.M., selaku Kepala Divisi Pusat Unggulan IPTEKS (PUI) Disruptive Learning Innovation (DLI) Universitas Negeri Malang (UM), hadir sebagai salah satu pembicara utama dalam Seminar Nasional Pendidikan Sejarah yang diselenggarakan oleh FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) 2026. Acara berskala nasional ini dipandu secara interaktif oleh Yasmin N. Chaerunissa, M.Pd., M.Hum. (Dosen Pendidikan Sejarah UNS) selaku moderator, serta menghadirkan jajaran pakar lintas sektor. Selain Dr. Citra Kurniawan, seminar ini juga menghadirkan Prof. Dr. Erlina Wiyanarti, M.Pd. (Guru Besar Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia) dan Reni Dikawati, M.Pd. (Biro Hubungan Masyarakat dan Tata Pimpinan, Badan Perencanaan Nasional) sebagai pembicara untuk mengupas tuntas tantangan pembelajaran di era sosial media, algoritma, dan AI. Seminar diiikuti sebanyak 80 peserta yang terdiri dari mahasiswa, guru dan dosen.

Membawakan materi tajam bertajuk “Lost in Algorithm: Urgensi Heuristik Sejarah di Abad 21”, Dr. Citra Kurniawan memberikan perspektif baru bagi para pelaku industri belajar mengenai bagaimana AI di satu sisi menjadi motor penggerak efisiensi, namun di sisi lain menyimpan tantangan kognitif besar yang dapat mengancam kualitas penalaran para pembelajar jika tidak disikapi dengan nalar kritis. Beliau menyoroti paradoks yang saat ini sedang melanda lanskap industri belajar. Generasi Z dan pembelajar modern saat ini hidup di era di mana aktivitas scrolling layar gawai sering kali menggantikan literasi konvensional, dan ketergantungan pada prompt AI berisiko mereduksi nalar kritis. Industri belajar yang ditenagai oleh AI—seperti platform EdTech, Large Language Models (LLM) penyuplai materi, hingga kurator konten berbasis algoritma—memang menawarkan kemudahan akses yang luar biasa. Kita saat ini memproduksi lebih banyak data dibanding era mana pun dalam sejarah manusia. Namun, kemudahan ini memicu fenomena fragmentasi data dan jebakan algoritma For Your Page (FYP) yang menciptakan ruang gema (echo chamber), di mana pembelajar hanya disuapi informasi yang seragam dan sesuai preferensi mereka saja.

Dampak lebih jauh dari kesemrawutan digital ini adalah munculnya kelelahan kognitif (cognitive fatigue) di kalangan pembelajar. Kondisi otak yang terbiasa dengan informasi instan berdurasi detik memotong kemampuan fokus untuk memproses narasi yang panjang dan mendalam. Dalam konteks industri belajar, ketergantungan pada ringkasan cepat yang dihasilkan AI kerap kali memangkas nuansa, menghilangkan perdebatan akademis, dan menyembunyikan kontradiksi esensial demi menghasilkan sebuah “narasi halus” yang belum tentu valid. Terlebih lagi, tantangan terbesar muncul dari fenomena halusinasi AI, di mana model generatif kerap memfabrikasi rujukan akademis fiktif dengan tingkat percaya diri probabilitas mencapai 99%, ditambah dengan maraknya teknologi deepfake serta fabrikasi visual yang mengaburkan batas antara realitas dan rekayasa.

Untuk memperkuat industri belajar di era kecerdasan buatan ini, kolaborasi pemikiran dari para narasumber bermuara pada satu kesimpulan penting: solusinya bukanlah menjauhi teknologi, melainkan melakukan penguatan kapabilitas verifikasi melalui metode ilmiah. Dr. Citra Kurniawan menegaskan pentingnya mengadopsi pilar ilmu sejarah, yaitu heuristik dan kritik sumber. Industri belajar yang tangguh di abad ke-21 harus melatih pembelajar dengan dua kerangka berpikir utama. Pertama adalah kritik ekstern untuk menguji keaslian fisik, asal-usul, dan autentisitas medium informasi digital sebelum digunakan. Kedua adalah kritik intern untuk menguji kredibilitas isi konten, mendeteksi bias algoritma, serta membandingkan satu sumber AI dengan sumber primer lainnya. Melalui integrasi nalar kritis ini, teknologi AI akan tetap menjadi alat bantu personalisasi belajar yang luar biasa tanpa harus mengorbankan ketajaman intelektual manusia (CK).