Hilirisasi riset dari laboratorium kampus menuju sektor industri manufaktur yang kompetitif bukanlah perkara mudah, namun Direktorat Inovasi Universitas Negeri Malang (UM) melalui divisi Inkubasi Bisnis dan Teknologi (Inbistek) berhasil membuktikannya. Di bawah kepemimpinan Hasan Ismail, S.Pd., M.Sc., Ph.D., Inbistek UM kini tengah memfokuskan agenda kerja pada pengembangan dan penguatan produk Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) berbasis teknologi lokal. Melalui jalinan kerja sama strategis dengan PT Santini Lestari Energi Indonesia, pengembangan produk ini tidak hanya menyasar pada pemenuhan kebutuhan domestik, melainkan juga dirancang sebagai produk inovasi berstandar industri nasional yang siap dikomersialkan secara luas di pasar bebas.Berdasarkan dokumen teknis pada berkas “spek spklu.jpg”, tim pengembang mengarahkan arah pengembangan produk SPKLU ini pada tiga pilar utama, yaitu optimalisasi daya, keamanan berlapis, dan pemenuhan regulasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Sebagai salah satu lompatan teknis, perangkat ini mengadopsi konfigurasi AC Charging Station Dual Gun berkapasitas daya 22 kW + 22 kW dengan total daya simultan sebesar 44 kW. Sistem dinamis tersebut dirancang menggunakan konektor standar IEC 62196-2 Type 2 yang andal untuk mendistribusikan energi secara stabil ke dua kendaraan sekaligus, sehingga institusi dapat memangkas waktu tunggu pengisian secara signifikan.Selain efisiensi daya, tim riset menempatkan aspek keselamatan operasional dan durabilitas fisik sebagai prioritas utama dalam fase manufaktur.

Produk SPKLU ini dikembangkan dengan sistem proteksi lengkap dan berlapis serta mengantongi standardisasi proteksi IP54 yang tangguh untuk pemasangan di area indoor maupun outdoor. Selanjutnya, inovasi ini juga melibatkan aspek digitalisasi lewat integrasi perangkat lunak pintar berupa Smart LCD Interface untuk monitoring pengisian secara real-time yang dipadukan dengan sistem otentikasi berbasis RFID demi menjamin akses yang aman dan terkontrol.Pada hilir program, sinergi ini bertujuan kuat untuk menjembatani riset kampus menuju pasar komersial secara terstruktur. Ketua Inkubasi Bisnis dan Teknologi UM, Hasan Ismail, Ph.D., menegaskan bahwa Inbistek UM bertugas mengawal seluruh siklus pengembangan produk agar dapat berjalan lancar hingga mencapai tahap manufacturing dan market-ready. Melalui kolaborasi komprehensif ini, institusi bersama mitra industri melakukan validasi teknologi, pengujian ketahanan, hingga penjaminan layanan purna jual yang mencakup garansi produk, ketersediaan suku cadang, dan dukungan teknis profesional. Pada akhirnya, pengembangan produk SPKLU pesanan khusus ini menjadi bukti nyata bahwa Universitas Negeri Malang mampu menghasilkan produk teknologi tinggi yang bankable serta siap dipasarkan secara massal untuk berbagai sektor, mulai dari kawasan kampus, perkantoran, hingga area parkir umum. (CK)