Dalam dua bulan terakhir, Direktorat Inovasi Universitas Negeri Malang (UM) menunjukkan perannya sebagai penggerak utama transformasi riset menuju inovasi yang berdampak. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan sepanjang Mei hingga Juni 2026 memperlihatkan arah pembangunan ekosistem inovasi UM yang semakin matang, tidak hanya berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada hilirisasi teknologi, penguatan startup, kolaborasi internasional, dan solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat serta industri.

Langkah tersebut diawali melalui penguatan kapasitas tenant dan startup binaan UM melalui Workshop Marketing Produk Tenant/Start-Up yang Prospektif Komersial. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi para inovator muda untuk memahami strategi pemasaran, validasi pasar, dan pengembangan model bisnis yang diperlukan agar produk hasil riset dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan. Upaya ini menegaskan bahwa inovasi yang lahir di kampus harus mampu menjawab kebutuhan pasar dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata.

Pada saat yang sama, UM juga memperluas eksistensinya di tingkat global melalui partisipasi dalam AFRASIA 2026. Ajang internasional tersebut menjadi etalase berbagai produk unggulan hasil karya sivitas akademika UM, sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan mitra dari berbagai negara. Kehadiran UM dalam forum internasional menunjukkan bahwa inovasi yang dikembangkan tidak hanya relevan pada tingkat lokal dan nasional, tetapi juga memiliki potensi untuk bersaing dalam ekosistem inovasi global.

Komitmen memperkuat jejaring internasional juga diwujudkan melalui diskusi dan penjajakan kerja sama dengan berbagai mitra luar negeri, De Monfort University, Leicester, UK termasuk pengembangan program microcredential dan penguatan kapasitas sumber daya manusia. Langkah ini menjadi bagian dari strategi UM dalam menyiapkan lulusan, dosen, dan peneliti yang mampu beradaptasi dengan dinamika perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja global.

Memasuki Juni 2026, fokus Direktorat Inovasi semakin mengarah pada percepatan hilirisasi hasil riset. Melalui Workshop Scaling Innovation, para peneliti, inventor, dan pengelola startup diajak memahami tantangan komersialisasi produk inovasi, mulai dari penyusunan strategi bisnis, perlindungan kekayaan intelektual, hingga membangun kemitraan dengan dunia industri. Forum ini menjadi bukti bahwa keberhasilan riset saat ini tidak hanya diukur dari publikasi ilmiah, tetapi juga dari kemampuan menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.

Penguatan ekosistem hilirisasi juga dilakukan melalui serangkaian kunjungan kelembagaan oleh Pusat Unggulan IPTEKS (PUI) UM. Kunjungan ke PUI Teknologi Penyimpanan Energi Listrik Universitas Sebelas Maret dan startup Batex Energi Mandiri memberikan pengalaman berharga mengenai tata kelola pusat unggulan, strategi komersialisasi, serta transformasi hasil riset menjadi produk industri yang memiliki daya saing. Kegiatan ini memperkaya wawasan pengelola inovasi UM dalam membangun model hilirisasi yang efektif dan berkelanjutan.

Salah satu sorotan penting selama periode ini datang dari PUI Disruptive Learning Innovation (DLI) UM yang mengangkat isu “Lost in Algorithm of AI” dalam forum nasional pendidikan. Di tengah masifnya penggunaan kecerdasan artifisial dalam berbagai aspek kehidupan, UM menekankan pentingnya literasi AI, kemampuan berpikir kritis, serta fondasi heuristik dalam proses belajar. Pesan ini menegaskan bahwa transformasi digital harus berjalan seiring dengan penguatan kapasitas manusia agar teknologi menjadi alat pemberdayaan, bukan sekadar alat otomatisasi.

Puncak capaian hilirisasi pada periode ini ditunjukkan melalui sinergi strategis antara Divisi Inkubasi Bisnis dan Teknologi (INBISTEK) Direktorat Inovasi UM dengan PT Santini Lestari Energi Indonesia dalam pengembangan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) berstandar nasional. Kolaborasi ini menjadi contoh konkret bagaimana hasil riset dan inovasi kampus dapat terhubung langsung dengan kebutuhan industri, sekaligus berkontribusi pada pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan transisi energi berkelanjutan di Indonesia.

Keseluruhan rangkaian kegiatan selama Mei–Juni 2026 menunjukkan bahwa Direktorat Inovasi UM tidak hanya berperan sebagai fasilitator inovasi, tetapi juga sebagai katalisator perubahan. Melalui penguatan startup, hilirisasi riset, pengembangan pusat unggulan, kolaborasi internasional, dan transformasi digital berbasis kecerdasan artifisial, UM terus memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi yang menghadirkan inovasi untuk kemajuan bangsa. Dari laboratorium menuju industri, dari ruang kelas menuju masyarakat, inovasi UM terus bergerak menghasilkan dampak yang semakin luas dan berkelanjutan. (CK)