Direktorat Inovasi Universitas Negeri Malang (UM) menyelenggarakan Workshop Scaling Innovation: Mendorong Produk Inovasi Menembus Pasar Industri dengan tema “Hilirisasi Produk Inovasi PUI” di GKB A20 Seminar Room Lt. 2 Universitas Negeri Malang. Kegiatan ini diikuti oleh 86 peserta yang berasal dari berbagai program pendanaan dan pengembangan inovasi, termasuk pelaksana Program Ajakan Industri (LPDP), Hilirisasi Riset Prioritas, Penelitian Terapan Prototype Industri, Program PUI-PT SINERGI, Startup Company Produk Inovasi, serta berbagai skema inovasi dan hilirisasi lainnya.

Workshop dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Nandang Mufti, S.Si., M.T., selaku Direktur Inovasi Universitas Negeri Malang. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan menghasilkan publikasi ilmiah dan prototipe teknologi, tetapi juga harus mampu memastikan hasil riset memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan dunia industri. Menurutnya, hilirisasi merupakan langkah strategis untuk menjembatani kesenjangan antara laboratorium penelitian dengan kebutuhan pasar sehingga inovasi yang dikembangkan dapat menciptakan nilai ekonomi, sosial, dan keberlanjutan yang lebih luas.

Kegiatan ini turut didampingi oleh Dr. Citra Kurniawan, S.T., M.M. sebagai Kepala Divisi Pusat Unggulan IPTEKS (PUI) sekaligus koordinator penyelenggara kegiatan Workshop Scaling Innovation , Prof. Dr. Muhammad Alfian Mizar, M.P. sebagai Kepala Divisi HKI dan Kerjasama Industri Direktorat Inovasi, Hasan Ismail, S.Pd., M.Sc., Ph.D sebagai Ketua INBISTEK serta tim pengembang Direktorat Inovasi yang secara aktif mendukung penguatan ekosistem inovasi dan komersialisasi hasil riset di lingkungan Universitas Negeri Malang.

Sebagai narasumber utama, Gilang R.E. Gitarana, S.Pd., M.T., Co-Founder dan CEO Khuga Labs, membagikan pengalaman praktis dalam membangun dan mengembangkan inovasi hingga mampu diterima pasar. Dengan pengalaman lebih dari 13 tahun di bidang pengembangan gim, media interaktif, dan pembangunan intellectual property (IP), Gilang memberikan perspektif yang relevan mengenai tantangan dan strategi komersialisasi inovasi di era ekonomi kreatif dan digital.

Dalam paparannya, Gilang menyoroti bahwa banyak inovasi berhenti pada tahap publikasi ilmiah, prototipe, atau demonstrasi teknologi. Padahal, tujuan akhir inovasi seharusnya adalah adopsi di dunia nyata, pemanfaatan oleh industri, penciptaan dampak, dan nilai ekonomi yang berkelanjutan. Ia menunjukkan realitas bahwa dari ratusan ide yang dihasilkan perguruan tinggi, hanya sebagian kecil yang berhasil menjadi produk siap pasar dan lebih sedikit lagi yang benar-benar terkomersialisasi. Kondisi tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh kualitas teknologi yang rendah, melainkan karena kurangnya validasi kebutuhan pasar, model bisnis yang belum matang, minimnya mitra industri, serta belum tersedianya saluran distribusi yang efektif.

Peserta diajak melakukan perubahan pola pikir dari pendekatan yang berorientasi pada teknologi (technology-driven) menuju pendekatan yang berorientasi pada penyelesaian masalah (problem-driven). Narasumber menegaskan bahwa industri tidak membeli teknologi semata, tetapi membeli nilai yang dihasilkan oleh teknologi tersebut. Oleh karena itu, peneliti dan inovator perlu mampu menjelaskan manfaat konkret dari produknya, seperti efisiensi biaya, peningkatan produktivitas, pengurangan risiko, atau penciptaan peluang pendapatan baru bagi pengguna dan industri.

Salah satu bagian yang mendapat perhatian besar dari peserta adalah pembahasan mengenai pentingnya validasi sebelum proses komersialisasi dilakukan. Gilang menjelaskan bahwa inovasi harus melalui tiga tahapan validasi utama, yaitu validasi masalah (problem validation), validasi produk (product validation), dan validasi pasar (market validation). Ketiga tahapan tersebut menjadi fondasi penting agar inovasi yang dikembangkan benar-benar menjawab kebutuhan pengguna dan memiliki peluang untuk diterima pasar.

Melalui studi kasus Khuga Labs, peserta memperoleh gambaran nyata bagaimana sebuah inovasi dapat berkembang meskipun dimulai dengan keterbatasan sumber daya. Fokus pada pembangunan komunitas, validasi kebutuhan pasar, pengembangan produk, dan kemitraan strategis terbukti mampu menghasilkan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Pengalaman tersebut menjadi inspirasi bagi para peneliti dan inovator UM untuk lebih berani membangun jejaring kolaborasi dan mengembangkan model bisnis yang adaptif terhadap kebutuhan industri.

Pada sesi interaktif, peserta melakukan evaluasi terhadap produk inovasi masing-masing menggunakan kerangka komersialisasi yang mencakup identifikasi produk, masalah yang diselesaikan, target pengguna, pembeli, nilai ekonomi, keunggulan kompetitif, tingkat kesiapan teknologi (TKT), hingga penyusunan roadmap pengembangan dalam jangka 30, 90, dan 180 hari ke depan. Pendekatan ini membantu peserta memetakan posisi inovasinya sekaligus menyusun langkah strategis untuk mempercepat hilirisasi dan adopsi oleh industri.

Workshop ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan startup dalam membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan. Sinergi ketiga unsur tersebut diyakini mampu mempercepat transformasi hasil penelitian menjadi produk yang memiliki daya saing tinggi, memberikan manfaat bagi masyarakat, serta memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan ekonomi nasional.

Dari perspektif Sustainable Development Goals (SDGs), kegiatan ini memiliki keterkaitan yang kuat dengan beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan. Pertama, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penguatan kapasitas inovator dan penciptaan peluang ekonomi berbasis hasil riset. Kedua, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) yang mendorong pengembangan inovasi, industrialisasi berkelanjutan, serta peningkatan daya saing teknologi nasional. Ketiga, SDG 17 (Partnerships for the Goals) yang menekankan pentingnya kemitraan antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan startup dalam membangun ekosistem inovasi yang produktif dan berkelanjutan.

Melalui penyelenggaraan Workshop Scaling Innovation, Direktorat Inovasi Universitas Negeri Malang menunjukkan komitmennya untuk memperkuat budaya inovasi yang tidak berhenti pada pencapaian akademik semata, tetapi juga mampu menghasilkan dampak sosial dan ekonomi yang nyata. Sejalan dengan pesan utama yang disampaikan narasumber, inovasi tidak selesai ketika penelitian dipublikasikan, melainkan ketika inovasi tersebut mampu memberikan manfaat nyata dan menciptakan nilai yang diakui oleh masyarakat maupun industri (CK).